Menguak Mitos Mandi Kembang Tengah Malam di Hari Jum’at Wage

Banyaknya adat dan warisan budaya leluhur salah satunya adalah  tradisi  ” Mandi bunga tuju rupa di tengah malam malam Jum’at wage “

Pati , www.suarahukum-news.com – Banyaknya akan adat dan budaya yang masih melekat pada masyarakat dari zaman dahulu hingga masa sekarang dan sebagian menjadi tradisi, salah satunya adalah mandi kembang (bunga) tuju rupa di tengah malam Jum’at Wage. Hal itu di lakukan , biasanya bila seseorang sedang menjalani lelaku atau melakukan salah satu ritual khusus, untuk mendapatkan sebuah petunjuk dari sang Khaliq agar di berikan kemudahan dan keselamatan  . (26 /10).

Bertempat di salah satu rumah praktisi supranatural yang berjuluk Ki Eyang Sukma, yang kebetulan ada beberapa murid yang sedang menjalankan ritual khusus yaitu setelah melalui puasa dan beberapa laku wirid, pada Kamis malam Jum’at Wage (25/10) sekitar pukul 23.59 Wib, yang sedang hendak melakukan mandi tengah malam, dengan menggunakan kembang tuju rupa.

Hal itu di lakukan bertujuan untuk membersihkan diri baik secara lahiriyah maupun batiniah, tetapi pada intinya semua apapun tetap bergantung hanya kepada Tuhan Sang Penguasa Alam Semesta (Allah).

Pada kesempatan itu, Dalam wawancaranya kepada awak media www.suarahukum-news.com, Ki Eyang Sukma telah menyampaikan, bahwa ada beberapa hal yang perlu di pahami dalam hal ini.

“Karena pada dasarnya sesuatu apapun, hakekatnya kita hanya meminta sesuatu kepada Allah Subhanahu Wataala, Soal bunga dalam hal ini hanya sebagai pelengkap dalam sebuah lelaku. Karena di dalam kaweruh kejawen kuno ada yang namanya belajar memahami isi surat tersurat, maupun isi surat tersirat. Artinya, ada kajian ilmu alam dan ilmu kitab,” tuturnya.

Masih Lanjut Ki Eyang Sukma , “Bunga tuju rupa, dalam hal ini adalah menggambarkan sebuah tujuan atau sesuatu yang di maksud. Hal itu dikaitkan dari hitungan jumlah hari, ada tuju.  Kemudian yang di maksud dengan bunga tuju rupa,  ialah agar apa yang di maksud dapat terkabulkan atau sampai tujuan, Harumnya bunga tuju rupa, dalam hal ini memiliki arti dan penggambaran sebuah aura. Selanjutnya setelah melalui proses ritual khusus, hal ini dipercaya mampu memberikan dan membangkitkan atau membuka aura positif. Dan di percaya dapat  memberikan keharuman di dalam sebuah usaha, dan keselamatan. Serta memiliki daya welas asih di dalam diri seseorang yang di maksud,” tandasnya.

(Red/Tg)

Author: suarahukum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.