Bertahan Sehari, Perawatan Jl.Pati-Tlogowungu di Desa Tamansari sudah Amburadul & Berdebu

Opini1069 Dilihat

Pati, www.suarahukum-news.com-Perawatan ruas Jalan Tlogowungu-Pati turut Desa Tamansari Kecamatan Tlogowungu Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah yang rusak akibat genangan air, lantaran kurang lancarnya sistem sirkulasi pembuangan air ke area selokan (drainase) beberapa waktu lalu, tampaknya kurang mendapat pengawasan dari instansi terkait dan pihak pelaksana pekerjaan terkesan mengabaikan standar kualitas mutu perawatan (aspal tambal sulam).

Pasalnya, selang sehari pasca dilakukannya perawatan (tambal sulam aspal) justru lokasi tersebut seolah menjadi kubangan tanah berdebu layaknya jalan yang belum tersentuh oleh penanganan perbaikan. Adapun penyebab kerusakan setelah perawatan, diduga kuat akibat buruknya pada tahap pondasi dan faktor struktur lapisan di bawahnya.

Diketahui bahwa, lapis perkerasan aspal merupakan bagian dari struktur jalan yang masih banyak digunakan di Indonesia. Lapis perkerasan aspal cenderung lebih fleksibel dibanding dengan lapis perkerasan kaku (beton) sehingga pengguna jalan merasa lebih nyaman dan aman. Namun, tidak jarang lapis perkerasan aspal yang belum memenuhi standar mutu kualitas dan spesifikasi kelayakan proyek juga dapat memicu terjadinya kerusakan lebih awal, jika dibandingkan dengan menggunakan pelapisan perkerasan aspal yang memenuhi standar syarat kelayakan.

Hal itu dapat terlihat pada tahap pemadatan pondasi bagian bawah, yang seharusnya menggunakan material batu (tidak bercampur tanah) sesuai ukuran sebelum dilanjutkan ke tahap berikutnya, di lokasi ini justru diduga telah menggunakan material batu yang bercampur dengan tanah berwarna merah coklat. Hal itu tentunya membuat pondasi aspal tidak dapat berfungsi dengan baik. Bukan hanya itu, saat dilakukan tahap akhir (pengaspalan) maka pekerjaan tersebut seolah mengambang di atas struktur permukaan tanah yang memiliki sifat labil, sehingga dengan hitungan hari perawatan jalan tersebut kembali mengalami kerusakan yang sama (saat sebelum dilakukan perawatan).

Jl.Pati-Tlogowungu, Desa Tamansari Kecamatan Tlogowungu, Kamis (14/04).

Padahal, untuk mendapatkan mutu kualitas dan kuantitas pada suatu proyek yang biayai oleh pemerintah, tidak hanya tanggung jawab dari pihak kontraktor saja, melainkan juga tanggung jawab dari instansi terkait. Meliputi, konsultan pengawas, ppk dan pengawas pekerjaan dari tingkat kedinasan. Untuk itu, pelaksanaan pekerjaan jalan harus diserahkan kepada kontraktor atau rekanan yang bonafide untuk mendapatkan kualitas dan standar mutu bangunan sesuai bidangnya.

“Padahal perawatan ini baru saja dikerjakan, namun sayangnya umur perawatan tidak bertahan lama,” ujar Gito, pria paruh baya yang sedang melintas di Jl.Tlogowungu-Pati siang itu, Kamis (14/04).

Ditempat terpisah, salah seorang aktivis penggiat sosial dan anti korupsi di Kabupaten Pati saat dimintai tanggapan tentang beberapa hal penyebab kerusakan lapis perkerasan aspal pada jalan, pihaknya mengatakan, pertama pada kadar aspal tidak sesuai dengan Job Mix Formula (JMF).

Job Mix Formula (JMF) adalah komposisi material penyusun aggregat aspal yang dibuat di laboratorium sebelum pelaksanaan di lapangan mulai. JMF ini dijadikan acuan untuk pekerjaan aggregat aspal di lapangan. Jika dalam JMF menyebutkan kadar aspal yang harus dipakai min 6,2% maka kadar aspal yang digunakan di lapangan harus 6,2% juga. JMF ini tidak paten selama proyek melainkan bisa berubah sesuai kondisi lapangan dan harus di acc oleh Konsultan pengawas. Sebagai kontraktor tidak boleh merubah kadar aspal di lapangan kecuali JMF juga ikut berubah.

Apabila kadar aspal yang digunakan di lapangan lebih kecil dibanding kadar aspal di JMF akan berakibat fatal pada mutu aggregat aspal di lapangan. Hal itu disebabkan daya rekat dan fleksibilitas akan menjadi tidak maksimal. Hasilnya setelah pengaspalan selesai jalan akan menjadi retak rambut. Jika terjadi retak rambut maka air hujan akan masuk ke struktur di bawahnya. Jika dibiarkan terus air akan merusak struktur bawahnya dan memperparah aggregat aspal.

Jl.Pati-Tlogowungu, tampak bergelombang dan berdebu, meskipun dilakukan perwatan, Kamis (14/04).

“Solusi untuk mengatasi jalan aspal yang sudah retak adalah dengan patching atau memotong dan mengambil sebagian aggregat aspal yang rusak. Kemudian diganti dengan aggregat aspal yang baru,” ujarnya, Kamis (14/04).

Selain itu, Lanjutnya, Suhu penghamparan aspal di lapangan tidak sesuai spesifikasi. Salah satu penyebab kerusakan aspal yang sering terjadi adalah aggregat aspal sudah dingin ketika sampai di lapangan. Alasannya adalah jarak AMP (Asphalt mixing plant) dengan lokasi pengaspalan terlalu jauh. Namun alasan itu tidak bisa dibenarkan karena kontraktor terikat dengan spesifikasi dan kontrak. Lalu berapa sih suhu penghamparan aspal yang benar? Suhu aspal yang normal pada saat dituangkan di asphalt finisher adalah 135-150ㅇ c. Biasanya sebelum dihamparkan akan diperiksa terlebih dahulu menggunakan termometer. Apabila suhu aspal menjadi dingin dan kurang dari suhu yang diisyaratkan maka aggregat aspal menjadi keras menggumpal. Aggregat aspal yang menggumpal akan menyebabkan aggregat aspal susah dipadatkan sehingga density aspal menjadi berkurang.

“Apabila dipaksakan tetap dihampar dalam waktu beberapa minggu setelah pengaspalan akan cepat rusak karena tidak homogen lagi,” imbuhnya.

Kemudian, yang membuat lapis pekerjaan aspal cepat rusak adalah LPA dan LPB belum keras namun tetap dipaksakan dilakukan pengaspalan. Lpa adalah lapis pondasi atas yang terletak tepat di bawah aggregat aspal sedangkan Lpb adalah lapis pondasi bawah yang terletak di bawah lpa dan diatas tanah dasar. Seringkali dalam pelaksanaan di lapangan lebih mengutamakan percepatan tanpa memperhatikan kualitas pekerjaan. Karena alasan percepatan lpa atau lpb yang belum keras langsung ditimpa dengan aggregat aspal. Hal ini akan berakibat sangat fatal karena apabila pondasi jalan rusak struktur di atasnya akan ikut rusak. Ini adalah salah satu penyebab kerusakan aggregat aspal yang sering terjadi. Biasanya kerusakan yang terjadi akan membentuk sebuah kubangan berisi air.

“Solusi yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kerusakan ini adalah dengan mengganti semua lapis pondasi dan dilakukan pengaspalan ulang. Semakin banyak kerusakan tentunya akan menyebabkan kerugian pada kontraktor. Oleh karena itu perlunya kehati-hatian dalam melaksanakan pekerjaan di lapangan,” katanya di sela aktivitasnya siang itu.

Selanjutnya pada Aggregat aspal di atas tanah timbunan yang belum padat. Apabila tanah timbunan belum padat sebaiknya jangan terburu-buru untuk menimpa dengan lapis pondasi. Walaupun campuran lapis pondasi menggunakan material yang sangat baik, jika terjadi penurunan tanah dasar akan terjadi kerusakan parah.

Faktor penyebab lainnya terjadi kerusakan pada jalan aspal adalah kurangnya pemadatan menggunakan alat berat. Pemadatan aspal biasa menggunakan 2 alat yaitu tandem roller dan PTR (pneumatic tire roller).

“Jumlah passing pemadatan aspal memang tiap proyek berbeda-beda namun biasanya dilakukan uji trial terlebih dahulu untuk mengetahui jumlah passing. Hasil uji trial tersebut dijadikan acuan untuk pekerjaan di lapangan. Apabila jumlah passing di lapangan lebih sedikit dari saat trial maka tingkat kepadatan berkurang (density). Seperti yang diketahui density minimal sesuai spesifikasi adalah 98%. Jika kurang dari itu akan dikhawatirkan lapisan air tidak 100% kedap air. Air akan masuk ke struktur pondasi dan lama kelamaan akan menyebabkan kerusakan aspal,” jelasnya.

Berikutnya yang dapat menyebabkan lapis aspal jalan cepat rusak adalah komposisi abu batu. Banyak orang yang sering mengabaikan peranan material abu batu ini. Padahal dalam campuran aggregat aspal abu batu sangat membantu dalam kerekatan. Faktor ini juga akan menentukan tingkat kepadatan dan kelenturan aggregat aspal. Pada campuran aspal AC-WC akan membutuhkan abu batu lebih banyak dibandingkan AC-BC karena lapisan AC-WC harus lebih rapat dan kedap terhadap air.

Jika material abu batu ini dikurangi atau tidak sesuai dengan JMF maka akan menimbulkan kerusakan pada lapis aggregat aspal.

“Tack coat dan prime coat merupakan material penting yang harus ada dalam struktur perkerasan fleksibel (flexible pavement). Adapun struktur jalan aspal terdiri dari LPB, LPA, Prime Coat, AC-BC, Tack Coat, dan AC-WC. Sesuai dengan urutannya bahwa material prime coat terletak antara LPA (Lapis pondasi atas) dan AC-BC. Sedangkan tack coat terletak diantara hotmix,” tandasnya.

 

 

 

 

(Red/Tg)