Nilai Spiritual Dalam Mitologi Pancasila

Semarang, www.suarahukum-news.com – Bangsa Indonesia jangan sekali-kali melupakan sejarah dan harus memahami kembali warisan akan nilai-nilai luhur batin asli nenek moyang bangsa Indonesia pada waktu tempo dulu yang sesungguhnya. ( 01/06 )

Yaitu memiliki jiwa sejati dan budi pakerti yang luhur dan sudah terkristalisasi menjadi Pancasila, Adapun tiap butir sila-silanya termuat dalam Pembukaan UUD 1945 alenia ke 4, sebagai dasar dan ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dengan sesungguhnya benar benar merupakan 5 (lima) inti etika dasar moral sejati kemanusiaan dalam satu kesatuan etis guna membentuk karakter jatidiri kemanusiaan bangsa Indonesia yang seutuhnya.

Bisa dikatakan, kesejatian sila-sila dalam Pancasila, merupakan derivatif dari ajaran Sang Hyang Kalimasada pandulu dan sabda pangandikan bersumber dari 5 ( lima ), yaitu Sang Mustika Danyang Jagad / Penghuni Jagad Alam Semesta ( Sang Hyang Ismayajati, Sang Hyang Manik Maya, Sang Hyang Gurujati, Sang Hyang Among Raga dan Sang Badranaya ).

Sang Hyang Kalimasada telah menjelma menjadi Sang Hyang Pancasila, juga sebagai Sang Pandulu dan Sabda Pangandikan ( penuntun dan kesantunan komunikasi dalam berkehidupan sosial ) bagi seluruh bangsa Indonesia, bahkan akan mendunia.

Pancasila benar-benar memiliki Ruh berdaya rasa cipta karsa holistik humanistik, serta ada Sang Hyang Ruhnya (Sang Hyang Pancasila/Sang Hyang Kalimasada).

Sebagai pemegang legitimasi original sistem software spiritual untuk diinstall atau download, kedalam sistem kedirian manusia.

Melalui ritus spiritual humanika / jatidiri kemanusiaan agar daya rasa kemurnian kesejatian Pancasila teraktivasi dan berkembang menjadi karakter kepribadian jatidiri setiap manusia.

Sang Hyang Pancasila / Sang Hyang Kalimasada atau para Sang Hyang Mustikanya, Danyang Jagad tersebut benar-benar ada dan abadi.

Serta bisa dilacak melalui kedalaman ritus sistem spiritual humanika/kesejatian kemanusiaan, yang sejak jaman purwa kawitan telah membentuk kemurnian karakter keluhuran jiwa Nenek Moyang Nusantara / Indonesia yang asli.

Oleh karenanya dalam mengembangkan sistem spiritual humanika / jatidiri kemanusiaan, serta berbagai varian derivatif spiritual budaya nasional, bagi bangsa Indonesia password / sesandi nama Sang Hyang Pancasila/ Sang Hyang Kalimasada harus diakses.

Hal ini sangat penting berkaitan dengan Ketahanan Budaya Nasional Jatidiri Bangsa Indonesia yang sesungguhnya.

Adapun Mitologi yang terkandung dalan setiap butir Pancasila adalah sebagai berikut :

1. Ketuhanan Yang Maha Esa.

Merupakan unsur karakter kesejatian yang berdaya rasa kesucian, bagi manusia bisa merupakan daya rasa kekosongan/kenetralan/kesucian yang berfungsi.

Agar manusia bisa memuat berbagai daya rasa apapun, yang telah berada dalam sistem kediriannya. Sehingga diperoleh rasa kedamaian, ketentraman, ketulusan dengan apa adanya.

Serta melahirkan etika moral kesopanan kesantunan yang lembah manah dan narima ing pandum (tidak serakah) sesuai dengan kreativitasnya.

Manusia telah meyakini ruh kesucian tersebut, merupakan ruh esensial berasal dari Sang Maha Suci Alam Semesta / Tuhan yang Maha Esa yang telah mendasari seluruh keberadaan alam perujudan ( Kosong & Isi / Tiada & Ada ).

Dalam upaya aktivasi agar spektrum esensi ruh tersebut senantiasa mengembang dan menggebyar kedalam kedirian, maka setiap pribadi manusia Indonesia diberi kebebasan menggunakan berbagai sistem spiritual yang dikehendakinya. Berdasarkan mitologi ajaran purwa kawitan

” Sang Hyang Ismayajati “, adalah Mustikanya Penghuni/Danyang Jagad, sebagai pemegang legitimasi sistem kendali dan transformasi terhadap esensi ruh kesucian keseluruh tatanan kehidupan alam semesta, yang dalam perkembangannya telah melahirkan berbagai ajaran sistem spiritual/keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa diseluruh penjuru dunia, yang diadabtasikan sesuai situasi kondisi kehidupan sosial pada setiap alam jaman.

Sistem spiritual keyakinan dalam kehidupan sosial tidak boleh monopolis dan stagnan, akan tetapi harus universal serta mendinamisir untuk menyehatkan, mencerdaskan, mensejahterakan dan mendamaikan dalam hidup dan berkehidupan sesama hidup penghuni alam semesta.

2. Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab.

Merupakan unsur karakter kesejatian berdaya rasa cipta karsa, berwawasan konprenhensip holistik humanistik, yang senantiasa beradabtasi berbasis Sang Maha Suci / Tuhan Yang Maha Esa.

Bila diaktivasikan akan memberikan daya rasa cipta karsa kecerdasan yang akan melahirkan berbagai kreativitas, untuk berkarya dengan lebih mengutamakan agar memperoleh kebahagiaan kreatif dibanding kebahagian konsumtif.

Sehingga melahirkan etika moral welas asih / cinta kasih, serta kesemangatan dalam kebersamaan hidup (gotong royong) penuh toleransi untuk menjaga ketertiban kedamaian yang berkeadilan. Dalam mitologi purwa kawitan sebagai pemegang sistem kendali dan transformasi terhadap esensi ruh tersebut adalah Sang Hyang Manikmaya.

Dengan wawasan kesemesta alam / menggelar jagad serta mendalangkan seluruh lakon berbagai penciptaan.

Agar jagad senantiasa mengembang, serta dipenuhi berbagai kreativitas dan aktivitas kehidupan pada seluruh dimensi kehidupan sosial secara adil dan merata.

Bila manusia dalam spiritual humanika melalui tatanan gurujatinya, memori hidupnya bisa mendapat sinergitasnya secara langsung.

Boleh jadi manusia tersebut akan mencapai optimalisasi kecerdasan akal budi pekerti, serta sangat bermanfaat dalam upaya mencerdasan kehidupan bangsa.

Bila dikaitkan ilmu pengetahuan sosial atau teknologi yang telah ada, akan memberikan daya ungkit yang signifikan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang super kreatif dan inovatif.

3. Persatuan Indonesia.

Merupakan unsur karakter kesejatian yang berdaya rasa integralistis komprenhensip, berbasis rasa sejati kemanusian yang holistik humanistik (Kemanusiaan yang adil dan beradab) yang senantiasa berkecenderungan bersosialisasi, agar saling kenal mengenal untuk bersinergis dengan ikatan tali persatuan dalam kesatuan ( Bhinneka Tunggal Ika ).

Persaudaraan yang kokoh saling kait mengait dalam jalinan tatanan kehidupan sosial masyarakat agung, dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang harmonis.

Dalam mitologi purwa kawitan sebagai pemegang sistem kendali dan transformasi terhadap esensi ruh tersebut adalah Sang Hyang Gurujati, dalam sistem kediriannya memuat rasa keinginan seluruh makhluk hidup semesta alam dalam rasa satu kesatuan yang etis.

Daya rasa kesatuan keinginan seluruh makhluk hidup oleh manusia sangat dibutuhkan untuk terjaganya keseimbangan ekosistem kehidupan.

Demi kesejahteraan, kedamaian dan keadilan sosial bagi manusia itu sendiri.

Ruh yang telah berdaya rasa kesatuan yang etis dari Sang Gurujati, sangat diperlukan untuk tercerap dalam karakter jiwa setiap pribadi manusia Indonesia, dalam upaya memperkokoh rasa kesatuan dan persatuan bangsa.

4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Dan Perwakilan.

Merupakan unsur karakter kesejatian berdaya rasa pamomong, pengayom, pemimpin demi tetap terjaganya persatuan dalam kesatuan yang etis ( Persatuan Indonesia ).

Untuk selalu mengakomodasikan keseluruhan kepentingan hidup dalam berkehidupan sosial, dengan lebih mengutamakan kepentingan umum/nasional dibanding kepentingan pribadi atau golongan.

Dalam mitologi purwa kawitan sebagai pemegang sistem kendali dan transformasi terhadap esensi ruh tersebut adalah Sang Hyang Among Raga, selaku pemegang legitimasi penjaga / pemelihara / pamomong terhadap perujudan alam semesta beserta penghuninya demi untuk pertumbuhan, ketertiban, kesejahteraan, kedamaian dan kelestariannya.

Manusia Indonesia harus memiliki unsur karakter tersebut demi eksistensinya bagi dirinya sendiri, berkeluarga, bermasyarakat atau apapun yang telah menjadi tanggung jawab amanat yang diembannya dengan penuh rasa hikmah dan kebijaksanaan.

5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Merupakan unsur karakter berdaya rasa idealisme disertai perjuangan lahir dan batin, dalam upaya mewujudkan kesejahteraan sosial yang adil dan makmur.

Pada setiap berkehidupan dengan didasari budi pakerti luhur, hingga merata dan dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Dalam mitologi purwa kawitan sebagai pemegang sistem kendali dan transformasi terhadap esensi ruh tersebut adalah Sang Badranaya, Sang Idealis dan Sang Pejuang agar bumi ini tetap langgeng.

Bagi manusia untuk beranak pinak serta mengembangkan evolusi kecerdasan sosial guna meraih kebahagian lahiriah, batiniah yang berkeadilan sosial.

Manusia Indonesia harus memiliki karakter idealis disertai daya juang lahir dan batin untuk meraih kesejahteraan sosial dan peduli terhadap kebersamaan hidup dan kegotong royongan demi terwujudnya rasa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dengan mitologi tersebut diatas bisa dikatakan Pancasila telah memiliki mitologi yang sangat kokoh dan mendasar. Hingga bertumpu pada inti sari jagad alam semesta (inti sari bawana langgeng) sebagai Sang Causa Prima.

Mitologi sila-sila dalam Pancasila merupakan paradogma holistis, sebagai pentas psikologis bagi setiap manusia Indonesia.

Sebagai tempat untuk memelihara dogmatika, yang dilandasi sebagai prinsip dasar aksiomatika dan keabsahan kadar kebenarannya tidak perlu dipertanyakan lagi.

Guna melahirkan berbagai rumusan etika keperilakuan berkehidupan sosial.

Sekaligus sebagai landasan ontologi dan epistemologi guna mengembangkan spiritual humanika Pancasila dan ilmu humanika Pancasila, untuk mewujudkan tatanan dunia baru menuju tegaknya tatanan berwawasan gotong royong dalam berkehidupan masyarakat agung yang saling mensejahterakan, mendamaikan serta berkeadilan sosial universal.

Selalu ingatlah dengan tanggal 1 Juni. Lahirnya dasar negara Indonesia, sebagai salah satu landasan cita-cita dari para pejuang bangsa kita.

Memiliki semangat persatuan dan kesatuan yang diimplementasikan dalam kehidupan ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, demi mewujudkan Kemanusiaan yang adil dan beradab hingga keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, menjadikan Pancasila bukan hanya suatu ayat hafalan semata.

Oleh karena itu, mari berjuang bersama menjaga kesatuan dan persatuan di atas seluruh perbedaan yang ada.

Sebagai penerus bangsa, kita tanamkan dalam hati dan jiwa bahwa Indonesia sebagai bangsa yang memiliki ideologi Pancasila, yang mampu menyatukan keberagaman yang ada menjadi Bhinneka Tunggal Ika.

” Semoga nilai-nilai luhur Pancasila senantiasa menjadi pedoman kita dalam hidup berbangsa dan bernegara “, kata Dewa Aruna, pada hari ini Senin ( 01/06 ).

Tak lupa Dewa Aruna juga mengucapkan , ” Selamat Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 1945 – 2020 “, tandasnya

 

( Red / Dwa, Tg )

 

Author: suarahukum