Pati, www.suarahukum-news.com | Sebagai wilayah yang memiliki nilai sejarah dan cagar budaya, tentunya menjadi kebanggaan tersendiri bagi suatu daerah. Pasalnya, selain sebagai lokasi penelitian oleh Badan Arkeologi dan Tim Ahli, wilayah yang memiliki potensi (kawasan cagar budaya) tersebut juga dapat memberikan sisi positif dalam peningkatan ekonomi berbasis wisata budaya. Akan tetapi, untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan keseriusan pemerintah daerah bersama instansi terkait lainnya.(19/09).
“Siapa yang tidak mengenal dengan Situs Patiayam. Bahkan, kawasan ini sudah lama dikenal sebagai situs manusia purba yang diteliti oleh orang asing sejak abad ke-19. Bahkan, kawasan ini juga disebut sebagai situs Purbakala yang cukup komplit,” ujar Tugiyono, Ketua Pecinta Sejarah dan Cagar Budaya (PSCB) Muria-Kendeng, yang juga seorang Jurnalis dan Memiliki Sertifikat Kompetensi Wartawan dari Dewan Pers, Minggu (18/09). Dan rencananya, akan kembali menyerahkan beberapa temuan fosil dari Patiayam ke Bidang Budaya, Disdikbud Kabupaten Pati beberapa hari kedepan.
Lebih lanjut, Ketua Pecinta Sejarah dan Cagar Budaya Muria-Kendeng mengatakan jika kawasan tersebut (Patiayam) terdapat berbagai jenis fosil flora, maupun fauna serta fragmen tulang manusia purba. Untuk itu, mari bersama-sama melestarikan kekayaan sejarah tersebut.
Baca juga; >>>>>>> https://suarahukum-news.com/pscb-muria-kendeng-serahkan-fosil-dari-patiayam-ke-disdikbud-pati/
“Patiayam adalah kawasan situs Purbakala terlengkap. Besar harapan kami agar pemerintah daerah mempunyai tempat khusus untuk menyimpan sendiri benda-benda purbakala yang pernah di temukan di Kabupaten Pati. Agar statusnya tidak dititipkan,” imbuh Tugiyono, yang juga memiliki Sertifikasi Kompetensi Wartawan (SKW) dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dengan Kompetensi Wartawan Utama, siang itu.
Ditempat yang sama, Andi Widodo juga menambahkan kalau di Kabupaten Pati sudah saatnya memiliki ruang budaya sendiri. Terlebih untuk menyimpan benda-benda kebudayaan yang sudah ada.
“Masak iya, benda-benda sejarah harus dititipkan. Kalau memiliki tempat sendiri kan bisa menjadi wisata edukasi bagi anak-anak. Mereka bisa melihat gading gajah purba atau benda-benda lainnya yang memiliki nilai sejarah tinggi,” kata Andi menambahkan.

Sementara itu Pamong Budaya Muda, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati Trevita Puspita Hadi beberapa waktu lalu juga mengatakan, bahwa 480 jenis fosil yang ditemukan dari Kabupaten Pati, statusnya dititipkan ke Museum Patiayam Kudus.
“Sesuai dengan bukti dan data tertulis yang dimiliki oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Pati, sedikitnya ada sekitar 480 jenis fosil yang dititipkan di Museum Patiayam, Kudus,” ujar Trevita sembari menunjukkan beberapa lembar kertas yang berisikan daftar temuan fosil dan fragmen dari Kabupaten Pati, saat menerima kunjungan dari PSCB Muria-Kendeng, Kamis (25/08).
Daftar temuan fosil ini, masih kata Trevita, “Kami minta dari Pak Jamin selaku Juru Pelihara di Museum Patiayam Kudus, saat menghadiri acara Fokus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, dengan pembahasan tentang Kajian Zonasi Cagar Budaya (Kawasan Patiayam) hari Selasa-Rabu (23-24/08/2022),” jelas Trevita siang itu.
Sementara itu ditempat yang sama, Teguh Waluyo juga menambahkan jika pihaknya baru mengetahui bahwa beberapa desa di Kabupaten Pati telah masuk sebagai kawasan cagar budaya Situs Patiayam.
Baca juga; >>>>>>>> https://suarahukum-news.com/sumur-batu-di-patiayam-pscb-muria-kendeng-airnya-tak-pernah-kering/
“Kami baru mengetahui kalau beberapa desa di Pati masuk dalam kawasan situs Patiayam. Soalnya, baru kali ini kami mendapatkan undangan sosialisasi tentang zona Patiayam,” kata Teguh siang itu, Kamis (25/08)
Selain menjadi bagian dari kawasan Situs Patiayam, beberapa desa di Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati juga diduga kuat masuk didalam formasi terpenting Situs Patiayam.
# Empat Formasi di Situs Patiayam
Dilansir dari berbagai sumber yang ada, Situs Patiayam memiliki 4 formasi lapisan yang begitu luas. Diantaranya seperti Formasi Jambe, Formasi Kancilan, Formasi Slumprit, dan Formasi Suko Bubuk.

Adapun disebut Formasi Jambe, adalah;
Sebuah batuan yang menyusun lapisan batuan lempung, terbentuk saat dahulu Muria dan Pulau Jawa terpisah, yaitu ketika zaman Meosin Akhir terbentuk. Ini terbukti dengan ditemukannya sumur yang airnya asin di sekitar daerah Patiayam.
Formasi Kancilan adalah;
Merupakan komposisi lempung, kemudian terbentuk akibat adanya pengangkatan daratan pada masa plestosen dan aktivitas gunung Muria. Batuan yang ada pada masa itu merupakan campuran dari batuan lempung dan breksi. Keadaan ini terjadi hingga akhir masa Plestosen.
Formasi Slumprit adalah;
Formasi ini terbentuk sekitar 1,5 juta tahun yang lalu. Di situs ini banyak ditemukan fosil vertebrata dan molusca air tawar. Fosil vertebrata yang ditemukan adalah gajah, rusa, ikan, dan kadal.
Formasi Suko Bubuk adalah;
Merupakan pusat penemuan jejak-jejak masa lampau di kawasan situs. Hal inilah yang membuat situs ini kaya akan segala macam jenis fosil. Situs Patiayam juga memiliki nilai-nilai penting karena merupakan salah satu dari sedikit situs manusia purba di Indonesia. Situs Patiayam mampu memberikan gambaran mengenai evolusi lingkungan purba tanpa terputus selama dua juta tahun terakhir.
Diketahui bahwa, Rangkaian penelitian telah dilakukan di situs ini, mulai dari tahun 1931 saat peneliti asal Belanda Van Es menemukan sembilan jenis fosil hewan vertebrata.
Berikutnya hingga tahun 2007 berbagai penelitian dilakukan dan ditemukan 17 spesies hewan vertebrata dan tulang belulang binatang purba antara lain: Stegodon trigonochepalus (gajah purba), Elephas sp (sejenis Gajah), Rhinocecos sondaicus (badak), Bos banteng (sejenis banteng), Crocodilus, sp (buaya), Ceruus zwaani dan Cervus atau Ydekkeri martim (sejenis Rusa) Corvidae (Rusa), Chelonidae (Kura-Kura), Suidae (Babi Hutan), Tridacna (Kerang laut), Hipopotamidae (Kudanil).
Temuan fosil-fosil di Patiayam memiliki keistimewaan daripada fosil temuan di daerah lain karenakan sebagian situs yang ditemukan bersifat utuh.
Dari waktu ke waktu, makin banyak fosil purba ditemukan di situs ini, sehingga perlu dibangun museum khusus sebagai tempat penampungan fosil-fosil temuan.
Hingga sekarang terkumpul tidak kurang dari 1.3000 fosil purba berusia antara 700.000 sampai 1 juta tahun.
(Red/Sh)






