Pati, www.suarahukum-news.com | Berbagai macam jenis gunungan hasil bumi turut meramaikan acara kirab budaya dan karnaval sedekah bumi Desa Maitan Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati. (29/05)
Acara (sedekah bumi) yang telah dilaksanakan secara turun temurun ini sudah menjadi tradisi masyarakat setempat jika memasuki Bulan Apit (penghitungan dalam kalender penanggalan Jawa) untuk Desa Maitan, dan warga Pati pada umumnya.
Dalam keyakinan masyarakat setempat, bumi memiliki peran penting terhadap keberlangsungan hidup bagi umat manusia dan makhluk lainnya. Bahkan, kita semua dapat bertahan hidup juga berkat dari hasil bumi dan kekayaan alam semesta.
“Alhamdulillah kirab budaya ini berjalan dengan lancar. Adapun tradisi ini (sedekah bumi) sudah berlangsung secara turun-temurun sebagai bentuk wujud syukur kita kepada Tuhan pencipta alam semesta atas hasil bumi yang sangat melimpah, khususnya pada satu masa panen tahun ini,” kata Padmo Dwi Handayani, Kepala Desa Maitan disela aktifitasnya di acara kirab budaya di desanya, Kamis (29/05).
Dalam kesempatannya, Kepala Desa Maitan juga menyampaikan kalau masyarakat setempat percaya bahwa Prabu Aji Saka pada zaman dahulu pernah melakukan tapabrata pembukaan hutan untuk pertama kalinya di wilayah Pegunungan Kendeng, termasuk di wilayah yang saat ini menjadi Desa Maitan.

“Kisah itu sudah dipercaya secara turun-temurun oleh masyarakat di sekitar Pegunungan Kendeng, terutama Desa Maitan. Kalau dilihat dari letak geografisnya, situs bledug kuwu (di Grobogan) adalah merupakan satu daratan yang sama dengan Maitan, yaitu berada di wilayah Pegunungan Kendeng. Maka, tak heran, jika sejarah masa lampau, desa kita ini memiliki keterkaitan dengan perjalanan panjang Prabu Ajisaka,” imbuh Padmo Dwi Handayani, yang diketahui sudah menjabat 3 periode dalam memimpin Desa Maitan sebagai Kepala Desa, terhitung sejak tahun 2008 sampai dengan sekarang tahun 2025 (berturut-turut).
Konon, Desa Maitan itu juga merupakan peninggalan dari Prabu Aji Saka yang juga ada kaitannya dengan Pegunungan Kendeng. Hal ini lantaran kawasan tersebut pernah menjadi lokasi pertapaan Prabu Aji Saka. Selain itu, juga ada kaitannya dengan sosok Raden Ayu Dewi Roro.
“Selain Ajisaka, Raden Ayu Dewi Roro pun juga dipercaya menjadi leluhur Desa Maitan. Jadi, jika sedikit mengulas tentang perjalanan leluhur, tentu kami semua sangat bersyukur atas peran dan jasa-jasa beliau dimasa lampau,” ucap Padmo Dwi Handayani, yang juga diketahui sebagai Pimpinan Musik Las Vegas dan Merrpati.
Berbagai gunungan dan hasil bumi yang dibawa dari masing-masing perwakilan RT , adalah sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat setempat atas keberlimpahan alam semesta dalam memberikan penghidupan bagi masyarakat, khususnya di desa kami ini.
“Semoga, dengan dilaksanakannya kegiatan acara bersih desa (sedekah bumi dalam bahasa Jawa, red) ini, masyarakat Desa Maitan semakin makmur dan sejahtera dengan hasil buminya yang melimpah serta dijauhkan dari segala bentuk marabahaya, dan semoga semakin kompak guyup rukun antar sesama warga,” ungkapnya.
Dilokasi yang sama, Supriyanto juga menambahkan, setidaknya ada 12 gunungan yang dibawa dari masing-masing lingkungan dan RT. Hal ini sebagai wujud syukur kita bersama atas hasil bumi yang melimpah.
“Semoga kedepannya acara seperti ini semakin meriah lagi dan semoga hasil bumi tahun depan juga jauh lebih baik dari tahun ini, Amin,” ucapnya.
Disinggung soal jejak peradaban dan kebudayaan lokal, Supriyanto kembali mengatakan kalau didesanya memang terdapat satu tempat yang masih dianggap sakral dan menyimpan ragam misteri, dan lokasi itu tepat berada di atas bukit.
“Warga setempat menyebutnya sebagai titik Kendeng. Dilokasi tersebut terdapat jejak menyerupai telapak kaki yang membekas pada batu, anehnya berdasarkan cerita orang tua dulu dilokasi itu jarang ditumbuhi rumput, dan terdapat batu besar, sayangnya batu tersebut sudah tidak utuh,” pungkasnya.
Selain acara kirab budaya, acara sedekah bumi Desa Maitan juga tetap mempertahankan kearifan lokal dan kesenian tradisional, seperti wayang kulit, barongan, reog, serta beberapa hiburan masyarakat lainnya.
(Red/Tg)






