GUBERNUR GANJAR PRANOWO MENJADI DOSEN AKPOL BERPANGKAT KOMBES , DALAM FILM YANG BERJUDUL ” SANG PERWIRA “

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo berperan sebagai dosen Akpol berpangkat Kombes dan mengajar mata kuliah Pancasila di tingkat IV dalam film yang berjudul ” Sang Perwira ”  besutan dari sutradara Ponti Gea. Selasa ( 10 / 7 )

Semarang , www.suarahukum-news.com – Sebuah kehormatan untuk Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo , karena telah menjadi salah satu bintang layar lebar yang akan tayang di bioskop XXI dengan judul ” Sang Perwira ” besutan dari sutradara Ponti Gea yang rencananya akan tayang pada bulan Oktober 2019 mendatang . ( 11 / 7 )

Dalam film yang dibintangi oleh 95 persen dari personel anggota Polda Sumatera Utara dan bintang ternama dari Jakarta Anggika Bolsterli itu , Ganjar Pranowo akan berperan sebagai Dosen Akpol berpangkat Kombes dan mengajar mata kuliah Pancasila di tingkat IV .

Di sela jadwal padatnya kegiatan , Gubernur Ganjar Pranowo selesai syuting di kawasan Akpol Semarang Jl.Sultan Agung , pada hari Selasa ( 9 / 7 ) mengatakan bahwa ;

” Bapak saya itu dulu mengharapkan ada anaknya yang menjadi polisi . Harapan itu ditujukan kepada saya . Kalau jadi polisi angkatan 90 , mungkin sekarang berpangkat Kombes atau bintang satu . Akhirnya saya menjadi polisi , tapi di film . Saya jadi ingat bapak , ” ujarnya

Dalam adegan film tersebut, Gubernur Ganjar Pranowo berperan sebagai Dosen Akpol dan mengajar di ruang kelas dengan mengenakan seragam dinas kepolisian berpangkat Kombes. Ia menjelaskan tentang syarat sebuah negara besar itu memiliki energi, pangan, mineral, laut dan rakyat yang banyak.

” Tidak banyak negara yang seperti itu . Coba , sebutkan negara besar itu mana saja , ” kata Ganjar kepada taruna dan taruni

Tiga taruna yang berasal dari Medan ( Horas ), Sunda (Johanes ) dan Jawa ( Joko ) menjawab tiga nama negara . India , Brazil dan Indonesia.

” Ya , Indonesia . Negeri ini akan makmur dan maju di masa depan. Dan di pundak kalian semua, negeri ini akan berkembang ,” tandas Ganjar

Usai syuting , politisi PDI Perjuangan yang juga mantan anggota DPR RI itu meminta kepada para taruna dan taruni untuk tidak pernah melakukan pelanggaran terhadap aturan.

Sementara itu , sutradara Sang Prawira Ponti Gea mengatakan , film yang rencananya berdurasi 100 menit itu bercerita tentang perjalanan seorang anak desa dari pinggiran Danau Toba yang bercita-cita jadi polisi . Selain melibatkan Ganjar Pranowo sebagai pemain , dirinya juga mengajak Bripka Herman Adi Basuki , operator PLD Sub Bagian Humas Polres Purworejo atau yang dikenal dengan Pak Bhabin Herman dalam akun Polisi Motret di akun YouTube ;

” Kenapa kami melibatkan Bapak Gubernur Jateng , karena kami ingin menunjukkan kerjasama yang kuat antara kepolisian dengan pemerintah ,” ujarnya

Ponti menambahkan , film itu menyuguhkan pergulatan sebuah keluarga di mana antara isteri dan suami tidak sepaham dalam merancang masa depan anaknya ketika anaknya duduk di bangku SMA .

Si Ibu , kata Ponti , ingin menuruti kemauan anaknya jadi polisi sementara si bapak lebih condong anaknya bekerja di luar negeri agar dapat menolong keuangan keluarga yang selama ini tergolong miskin .

Ide cerita film lahir dari para pejabat Utama Polda Sumut yang didukung oleh Wakapolda Sumut Brigjen Pol Mardiaz Kusin Dwihananto kemudian diperkaya oleh Kapoldasu Irjen Pol Agus Andrianto , terutama tentang sosok seorang polisi yang berani dan tangguh serta muatan pesan moral pedagogis ( strategi pembelajaran ) kepada masyarakat .

Film layar lebar ini selain menampilkan profesionalisme polisi dalam menjalankan tugas , juga memperkenalkan berbagai kultur masyarakat dan destinasi wisata serta membangun rasa nasionalisme .

Lokasi syuting mengambil 130 titik dan tersebar di beberapa daerah seperti Karo , Simalungun , Tobasa , humbahas Tanjung Balai , Sibolga , Nias , Medan , Semarang ( Akpol ) dan Jakarta ( Mabes Polri ).

Ponti merupakan pria berdarah suku Nias yang pernah mengenyam pendidikan dua tahun di Italia . Karya-karyanya antara lain Samadoni Tano ( 2011 ) , Ilu Na Maraburan ( 2017 ) , Ahele , Lewuo Si Sara , Anak Sasada ( 2011 ) dan Tanah Parsirangan ( 2012 ) , serta film berbahasa Nias , seperti Ono Sitefuyu dan Lua-Lua Bowo Sebua dan sebagainya . Ia mengakui , keinginannya untuk memproduksi sebuah film agar bisa mengobati rasa kerinduan dan cintanya pada kampung halaman serta memberikan pesan pesan moral , adat istiadat yang kerap dilanggar seiring berjalannya perkembangan zaman .

( Red / Hjt )

COMMENTS