Langka, Randu Alas di Patiayam Diduga Sebagai Bukti Jejak Peradaban

Opini1456 Dilihat

 

Pati, www.suarahukum-news.com | Berbicara tentang Randu Alas, tentu akan membawa kita pada nuansa masa lampau. Karena, pohon yang satu ini dipercaya telah memiliki keistimewaan tersendiri pada zaman peradaban. Randu alas (Bombax ceiba L.) adalah pohon yang dianggap suci oleh umat Hindu. Tumbuhan ini dapat berukuran sangat besar dan sering ditanam di dekat bangunan suci. Bahkan, pada saat penemuan Candi Pawon, pohon ini diketahui tumbuh diantara reruntuhan bangunan.(08/10).

Tak jauh bedanya ditempat lain, Randu Alas yang berada di Pegunungan Patiayam ini juga dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai kawasan yang cukup wingit dan sakral. Pasalnya, berbagai cerita tutur yang berkembang, telah menyebutkan bahwa sekitar tumbuhnya Pohon Randu Alas ini, dulunya merupakan sebagai lokasi tempat peribadatan pada zaman peradaban.

“Selain itu, pohon randu alas juga memiliki keunikan lain. Pasalnya, pohon satu ini dapat dijadikan sebagai tanda pergantian musim oleh masyarakat dengan ditandai keluarnya bunga berwarna merah jambu, yang menandakan pergantian musim kemarau, dan jika daun randu alas mulai bersemi, maka hal ini menandakan akan datangnya musim penghujan,” ujar Tugiyono, Pecinta Sejarah dan Cagar Budaya (PSCB) Muria-Kendeng, Sabtu (08/10).

Lebih lanjut Pecinta Sejarah dan Cagar Budaya Muria-Kendeng ini juga menambahkan, Pohon Randu Alas ini, pertama kali kami temukan tepat pada hari Kamis (06/10) sore, persis menjelang matahari terbenam. Pada waktu itu, kita sedang mengunjungi tempat yang diduga Gua yang berada diaatas bukit, tak jauh dari pohon randu alas tersebut.

“Sore itu, kami seolah tertarik dengan energi positif di salah satu pohon yang tampak dari kejauhan. Kemudian, kami mendekati lokasi pohon. Dan benar adanya, ternyata pohon tersebut merupakan pohon randu alas,” imbuhnya seraya menceritakan kejadian-kejadian diluar nalar yang ia alami pada saat di sekitar pohon randu alas tersebut.

Bunga randu alas yang masih segar berwarna merah jambu berada tepat di atas batu, disaat musim daun semi, Kamis (06/10).

Masih kata Tugiyono, Kejadian yang sulit kami terima pada sore itu adalah, saat ini (Bulan Oktober 2022) telah memasuki daun semi. Sehingga waktu untuk berbunga tentunya sudah berlalu. Hal ini diperkuat dengan bukti-bukti, tentang adanya bunga pohon randu alas yang jatuh disekitar pohon, sudah mengering. Sisa-sisa buah randu alas (kapuk, bahasa Jawa, reed) juga sudah tampak menyatu dengan tanah (melapuk).

“Namun, sore itu, saya menemukan satu bunga randu alas yang masih segar, dengan warna merah jambu, tepat  di atas lekukan batu, dengan jarak sekitar 30 meter dari pohon randu alas berada. Sulit dipercaya memang, karena pohon randu alas memiliki musim sendiri, meliputi musim gugur, musim bunga dan musim berbuah. Sementara saat ini telah memasuki musim daun semi,” kata Tugiyono sambil menunjukkan bunga randu alas yang ia peroleh dari Pegunungan Patiayam.

Baca juga : >>>>>>>>> https://suarahukum-news.com/sumur-batu-di-patiayam-pscb-muria-kendeng-airnya-tak-pernah-kering/

Sementara itu warga setempat juga menuturkan, jika disekitar lokasi pohon randu alas tersebut cukup memiliki cerita misteri yang berkembang dimasyarakat dan belum terpecahkan. Bahkan menurutnya, pohon randu alas tersebut sudah ada sejak zaman ia kecil. Pada zaman kakek buyutnya, di tempat tersebut terdapat randu alas Dampit (batang bercabang). Namun, pohon yang itu (randu alas Dampit) sudah roboh.

“Artinya, di lokasi tersebut tumbuh lagi pohon randu alas. Sehingga bisa diartikan bahwa pohon yang saat ini tumbuh merupakan pohon titisan (tumbuh dari biji), dari pohon yang sebelumnya sudah ada,” kata Nur, warga setempat yang sedang mencari pakan ternak, Desa Pegandan, Kecamatan Margorejo Kabupaten Pati.

Lebih lanjut pihaknya juga menuturkan, Penggarap lahan disini pasti akan pulang sebelum matahari terbenam. Lantaran, jika menjelang magrib, akan terdapat suara-suara aneh. Seperti orang memanggil, suara tangisan anak kecil dan hal-hal mistis lainnya.

Namun, terlepas dari cerita mistis yang sudah melegenda di masyarakat, Pegunungan Patiayam juga sudah lama dikenal sebagai Situs yang memiliki persamaan dengan Situs Sangiran, Trinil, Mojokerto, dan Nganjuk.

Adapun keunggulan komparatif dari situs Patiayam adalah fosilnya yang utuh. Hal ini dikarenakan penimbunan adalah abu vulkanik halus dan pembentukan fosil yang berlangsung dengan baik. Di sekitarannya tidak terdapat sungai besar, sehingga fosil ini tidak pindah lokasi karena erosi. Keadaan ini berbeda dengan situs purbakala lainnya, dimana fosil ditemukan pada endapan kotoran hewan.

Dikenal sebagai Situs Manusia Purba, tentunya juga didukung dengan temuan-temuan dari para peneliti yang telah menemukan jejak-jejak kehidupan dari Pegunungan Patiayam yang sudah ada sejak zaman pra-aksara/zaman batu.

Sumur Batu, Lokasi: Pegunungan Patiayam, Desa Pegandan, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati.

Secara administrasi, Situs Patiayam berada di dua wilayah, yakni meliputi beberapa desa di Kabupaten Kudus dan beberapa desa di Kecamatan Margorejo Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah.

Situs Patiayam merupakan salah satu situs terlengkap. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya manusia purba (Homo erectus), fauna vertebrata dan fauna invertabrata. Ada juga alat-alat batu manusia dari hasil budaya manusia purba yang ditemukan dalam satu aeri pelapisan tanah yang tidak terputus sejak minimal jutaan tahun yang lalu.

Baca juga : >>>>>>> https://suarahukum-news.com/bagaimana-implementasi-uu-no-11-tahun-2010-tentang-cagar-budaya-di-pati/

Secara morfologi situs Patiayam merupakan sebuah kubah (dome) dengan ketinggian puncak tertingginya (Bukit Patiayam) 350 meter di atas muka laut. Di daerah Patiayam ini terdapat batuan dari zaman Plestosen yang mengandung fosil vertebrata dan manusia purba yang terendap dalam lingkungan sungai dan rawa-rawa.

Terhitung sejak tanggal 22 September 2005 situs Patiayam ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah. Sebelumnya situs ini, juga sudah lama dikenal sebagai salah satu situs manusia purba (hominid) di Indonesia. Sejumlah fosil binatang purba ditemukan penduduk setempat seperti kerbau, gajah, dan tulang lain. Fosil gading gajah purba Stegodon Trigonocephalus merupakan primadona Patiayam.

Rangkaian penelitian telah dilakukan di situs ini, mulai dari tahun 1931 saat peneliti asal Belanda Van Es menemukan sembilan jenis fosil hewan vertebrata. Berikutnya hingga tahun 2007 berbagai penelitian dilakukan dan ditemukan 17 spesies hewan vertebrata dan tulang belulang binatang purba antara lain: Stegodon trigonochepalus (gajah purba), Elephas sp (sejenis Gajah), Rhinocecos sondaicus (badak), Bos banteng (sejenis banteng), Crocodilus, sp (buaya), Ceruus zwaani dan Cervus atau Ydekkeri martim (sejenis Rusa) Corvidae (Rusa), Chelonidae (Kura-Kura), Suidae (Babi Hutan), Tridacna (Kerang laut), Hipopotamidae (Kudanil). Temuan fosil-fosil di Patiayam memiliki keistimewaan daripada fosil temuan di daerah lain karenakan sebagian situs yang ditemukan bersifat utuh.

 

(Red/Tg)