Nguri-Uri Kebudayaan Lokal, Pentas Wayang Kulit di Punden Eyang Abiyoso Desa Pegandan

Daerah946 Dilihat

Pati, www.suarahukum-news.com | Warga masyarakat padati lokasi Punden Eyang Abiyoso yang berada Dukuh Sempulawang, Desa Pegandan, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati pada hari Kamis (08/05) siang. Berbagai masakan dan jenis olahan hasil bumi yang dikemas dalam wadah sedemikian rupa, kemudian di bawa lokasi acara untuk selanjutnya dilakukan pembacaan doa bersama yang ditujukan kepada Tuhan Sang Pencipta alam semesta serta kirim doa kepada arwah leluhur desa setempat. (8/5)

Dalam tradisi Jawa, Sedekah Bumi merupakan tradisi atau ritual yang dilakukan oleh masyarakat tertentu, terutama di daerah pedesaan atau masyarakat adat, untuk mengungkapkan rasa syukur dan sebagai bentuk penghormatan kepada seluruh arwah leluhur desa atas perjuangannya dimasa lampau.

“Alhamdulillah, bertepatan dengan hari ini (Kamis Legi, pasaran kalender Jawa.red) masyarakat Dukuh Sempulawang Desa Pegandan telah melaksanakan acara tahunan bersih desa atau masyarakat di sini menyebutnya sebagai acara sedekah bumi. Hal ini sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kita kepada Tuhan pencipta alam semesta dan sekaligus untuk menghormati perjuangan para arwah leluhur,” ungkap Sudarmono, Kepala Desa Pegandan, Kamis (08/05) saat dilokasi acara pagelaran wayang kulit, Punden Eyang Abiyoso.

Lokasi Punden Eyang Abiyoso, Dukuh Sempulawang, Desa Pegandan, Kecamatan Margorejo, Pati. (Kamis, 08/05). 

Lebih lanjut Kepala Desa Pegandan juga mengatakan bahwa Sedekah Bumi memiliki makna yang penting, diantaranya sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah dan keberkahan hidup yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala selama satu tahun terakhir. Selain itu, acara ini juga dapat dijadikan sebagai sarana ajang silaturahmi dan doa bersama untuk kemajuan dan kemakmuran desa.

Disinggung soal rangkaian acara dalam kegiatan bersih desa tahun ini, Kepala Desa Pegandan kembali mengatakan kalau seluruh rangkaian kegiatan telah dilaksanakan dengan cara yang cukup sederhana, namun tidak mengurangi semangat dan puji syukur kita kepada Tuhan pencipta alam semesta, dan Alhamdulillah pembacaan doa dapat berlangsung secara khidmat dilokasi acara.

“Sementara untuk acara hiburan masyarakat, ada pagelaran wayang kulit dan kesenian tradisional ketoprak, serta kegiatan sosial lainnya telah dilaksanakan pada masing-masing pedukuhan,” imbuh Sudarmono.

Dalam kesempatannya, Kepala Desa Pegandan juga berharap agar acara tahunan seperti ini dapat terus dilaksanakan. Dengan demikian, nilai-nilai tradisi keberagaman budaya lokal tidak mudah tergerus oleh arus zaman.

Perihal pemilihan lokasi yang digunakan sebagai puncak acara, Kepala Desa Pegandan lebih memilih di lokasi Punden Eyang Abiyoso. Hal ini lantaran sudah menjadi tradisi turun-temurun bahwa setiap pelaksanaan acara sedekah bumi khususnya di Pedukuhan Sempulawang, maka lokasi tersebut dipilih lantaran memiliki nilai histori tersendiri.

“Masyarakat setempat sudah meyakini kalau di Punden Eyang Abiyoso telah dipercaya memiliki histori dan sejarah perjalanan para leluhur dimasa lampau yang cukup panjang. Selain itu, sejak jaman orang tua dahulu, tempat ini diyakini memiliki karomah tersendiri,” pungkasnya.

Untuk diketahui, dilokasi Punden Eyang Abiyoso terdapat pohon Walikukun yang cukup besar dan usianya diperkirakan sudah berumur ratusan tahun. Hal ini dapat terlihat dari bentuk ukuran ciri-ciri pohon yang cukup besar. Lokasi Punden yang berada dikawasan lereng Pegunungan Patiayam juga sering didatangi para penikmat wisata religi yang datang dari berbagai daerah.

 

 

 

(Red/Tg)