Unik & Langka, Fosil Ini Menyerupai Naga Bertapa dengan Posisi Melingkar, Kepala Menunduk

Daerah2463 Dilihat

Pati, www.suarahukum-news.com | Kekayaan alam semesta meliputi hutan, gunung, lautan serta seluruh makhluk hidup yang didalamnya, merupakan salah satu bentuk bukti, dari kebesaran dan kekuasaan Tuhan Pencipta Alam. Sehingga, menyimpan banyak misteri dan fakta-fakta unik, yang terkadang sulit diterima dengan akal sehat manusia.(16/12)

Seperti fenomena alam yang sering dikait-kaitkan ada hubungannya dengan kehidupan masa lampau, seolah menjadi cerita tutur di masyarakat yang tak akan habis di telan waktu. Bahkan, kejadian-kejadian ganjil yang kerap terjadi di sekitar tempat tinggal kita, juga seolah tak lepas dari cerita, mitos dan legenda.

“Jika kita mau mempelajari tentang keanekaragaman kultur dan budaya masa lampau (warisan leluhur), mungkin kita bisa saling menghargai pendapat orang masing-masing, sesuai dengan tingkat pengetahuannya,” ujar Yono, yang diketahui memiliki kecintaan terhadap segala bentuk cagar budaya di Bumi Mina Tani, Kamis (15/12)

Terlebih tentang keyakinan, lanjut Yono, Hal ini menjadi sangat penting untuk kita saling menghargai dan menghormati toleransi antar sesama. Misalnya, sebuah kepercayaan terhadap kebendaan (wujud) maupun sesuatu keyakinan yang tidak bersifat benda (tidak wujud).

Fosil unik dan langka, menyerupai bentuk hewan melata yang sedang melingarkan tubuhnya, ujung ekor bertemu dengan ujung kepala, posisi menunduk. (dok.red) Kamis (15/12).

“Kalau sudah berbicara tentang suatu keyakinan terhadap kebendaan yang bewujud, tentu saja tidak semua orang dapat sepaham dengan pendapat kita. Karena, berkaitan dengan sebuah pengetahuan sesuai kadarnya,” imbuh bapak tiga anak tersebut.

Disinggung soal kebendaan yang berwujud, Yono kembali menyebut jika dirinya juga memiliki benda unik, serta tergolong cukup langka. Bahkan, didunia hanya ada beberapa saja yang menyerupainya.

“Beberapa waktu lalu, saya mendapat temuan benda unik mas, kalau dilihat dari bentuk fisiknya seperti fosil hewan melata yang sedang bertapa. Adapun posisinya, hewan ini seperti sudah menempatkan diri dengan membentuk lingkaran ditubuhnya yang tidak putus (lingkaran sempurna). Kemudian, antara ujung ekor dan ujung kepala saling bertemu. Selanjutnya dengan posisi kepala menunduk kebawah. Posisi seperti ini, seolah memberikan pesan semasa hidupnya yang sudah pasrah dan sudah mempersiapkan diri untuk mencapai alam kelanggengan,” sebut Yono, yang diketahui aktif dalam mensosialisasikan kecintaan terhadap segala bentuk cagar budaya dan warisan leluhur di Kabupaten Pati melalui caranya.

Namun, lanjut Yono, sebelum mendapat temuan fosil unik tersebut, dirinya mengaku telah bermimpi melihat sebuah kehidupan masa lampau. Dalam mimpi tersebut, ada seorang kakek berjubah putih, sembari melakukan percakapan dengan bahasa yang santun, sebelum selanjutnya sosok orang tua tersebut hilang bersama dengan kesadarannya yang pulih (terbangun dari tidur) ditengah malam.

“Saya tidak tahu persis ini fosil belut atau fosil ular. Yang jelas kalau menurut keyakinan kami, terlepas dari bentuknya yang unik, saya percaya kalau di dalam batu ini dulunya adalah sebuah makhluk hidup. Mungkin karena proses alam yang sedemikian rupa dan berjuta-juta tahun lamanya, akhirnya menjadi batu (fosil) dengan wujud yang sangat sempurna. Karena, terlihat jelas dari urat-urat,hidung, mulut, dan lainnya dapat terlihat dengan jelas,” tandasnya.

Seperti diketahui, jika dilihat dari sudut pandang teori alam dan fakta geologi, mungkin fosil tersebut terbentuk dari kondisi alam pada zaman purba, mengingat benda hidup yang berubah fisik menjadi batu dibutuhkan waktu yang cukup panjang. Selain itu, faktor lingkungan juga harus mendukung. Mulai dari iklim, tanah, air dan lingkungan.

Namun, jika dilihat dari sudut pandang kega’iban dan rohaniah, fosil tersebut merupakan capaian kesempurnaan atas tujuan makhluk tersebut semasa hidupnya. Arti kata lain, makhluk hidup yang sedang menjalankan pertapaan, sehingga setelah mencapai alam kelanggengan, bentuk fisik tubuhnya kemudian berubah menjadi batu (mustika/fosil). Karena, sifat batu yang keras, seolah menggambarkan keabadian yang menyatu dengan alam semesta.

 

 

(Red/Tg)