HUKUM WARIS ISLAM MERUJUK PADA KHI , AMINAH MENCARI KEADILAN

 

Saudara Aminah ( 53 ) binti Sutarman saat menunjukkan surat ahli waris beserta dokumen lainnya yang menerangkan adanya hubungan darah sebagai penerima waris dari pemberi waris. Selasa ( 7 / 8 )

Pati , www.suarahukum-news.com – Merasa memiliki hak waris dari harta yang bergerak maupun harta yang tidak bergerak atas aset berupa bangunan rumah berbentuk joglo dari kayu jati dengan ukuran luas bangunan sekitar 20 meter dengan panjang bangunan sekitar 40 meter yang berdiri di atas sebidang tanah pekarangan dengan sertifikat Hak Milik ( SHM ) Nomor . 986 atas nama Sutarman bin Mangun Karyo dengan luas tanah 6.387 M2 yang terletak di Desa Cebolek Kidul RT 03 / 03 Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati . Namun anak kandung yang merupakan salah satu dari penerima ahli waris yang seharusnya mendapatkan hak dari pemberi waris ( orang tua ) seakan diduga terabaikan oleh saudara – saudara sesama penerima waris . Merasa terdzamilimi oleh saudara kandungnya sendiri karena tidak mendapatkan hak nya atas ahli waris , maka saudara Aminah ( 53 ) berencana melakukan upaya hukum sesuai dengan aturan KHI ( Kompilasi Hukum Islam ) , atas hak pembagian ahli waris . ( 7 / 8 )

Kronolongi singkat bermula ketika saudara Sutarman bin Mangun Karyo ( almarhum ) yang merupakan ayah dari Aminah dan saudara laki-laki dan perempuan lainnya yang merupakan anak kandung dari almarhum . sebelum meninggal dunia sesuai dengan surat keterangan kematian dengan nomor : 474.2 / 038 / 2017 yang disebutkan bahwa beliau ( almarhum ) wafat pada tanggal 7 / 5 / 2004 .

Di ketahui bahwa saudara Sutarman bin Mangun Karyo telah memiliki sebuah bangunan rumah yang berdiri di atas tanah Hak Milik ( SHM ) Nomor . 986 atas nama Sutarman bin Mangun Karyo dengan luas tanah 6.387 M2 yang terletak di Desa Cebolek Kidul RT 03 / 03 Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati .

Sesuai dengan porsinya bahwa Ahli Waris dalam Hukum Waris Islam yang merujuk pada Kompilasi Hukum Islam ( KHI ) yang disebarluaskan berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam ( Inpres 1 / 1991 ) , ahli waris adalah orang yang pada saat meninggal dunia mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris, beragama Islam dan tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris.

Ahli waris dipandang beragama Islam apabila diketahui dari Kartu Identitas atau pengakuan atau amalan atau kesaksian, sedangkan bagi bayi yang baru lahir atau anak yang belum dewasa, beragama menurut ayahnya atau lingkungannya.

Adapun Kelompok-kelompok ahli waris menurut KHI ( Kompilasi Hukum Islam ) ialah menurut hubungan darah seperti , Golongan laki-laki terdiri dari : ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, paman dan kakek , Golongan perempuan terdiri dari : ibu, anak perempuan, saudara perempuan dan nenek.

Adapun Menurut hubungan perkawinan terdiri dari duda atau janda , Apabila semua ahli waris ada, maka yang berhak mendapat warisan hanya: anak, ayah, ibu, janda atau duda.

Seorang terhalang menjadi ahli waris apabila dengan putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, dihukum karena dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya berat pada pewaris, Atau dipersalahkan secara memfitnah telah mengajukan pengaduan bahwa pewaris melakukan kejahatan yang diancam dengan hukuman 5 tahun penjara atau hukuman yang lebih berat.

Adapun Besaran Bagian Ahli Waris sesuai dengan KHI ialah, Anak perempuan bila hanya seorang ia mendapat separoh bagian, bila dua orang atau lebih mereka bersama-sama mendapat dua pertiga bagian, dan apabila anak perempuan bersama-sama dengan anak laki-laki, maka bagian anak laki-laki dua berbanding satu dengan anak perempuan.

Ayah mendapat sepertiga bagian bila pewaris tidak meninggalkan anak, bila ada anak, ayah mendapat seperenam bagian . Ibu mendapat seperenam bagian bila ada anak atau dua saudara atau lebih. Bila tidak ada anak atau dua orang saudara atau lebih, maka ia mendapat sepertiga bagian . Ibu mendapat sepertiga bagian dari sisa sesudah diambil oleh janda atau duda bila bersama-sama dengan ayah . Duda mendapat separuh bagian bila pewaris tidak meninggalkan anak, dan bila pewaris meninggalkan anak, maka duda mendapat seperempat bagian.

Untuk janda mendapat seperempat bagian bila pewaris tidak meninggalkan anak, dan bila pewaris meninggalkan anak, maka janda mendapat seperdelapan bagian . Bila seorang meninggal tanpa meninggalkan anak dan ayah, maka saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu masing-masing mendapat seperenam bagian. Bila mereka itu dua orang atau lebih maka mereka bersama-sama mendapat sepertiga bagian.

Bila seorang meninggal tanpa meninggalkan anak dan ayah, sedang ia mempunyai satu saudara perempuan kandung atau seayah, maka ia mendapat separuh bagian. Bila saudara perempuan tersebut bersama-sama dengan saudara perempuan kandung atau seayah dua orang atau lebih, maka mereka bersama-sama mendapat dua pertiga bagian. Bila saudara perempuan tersebut bersama-sama dengan saudara laki-laki kandung atau seayah, maka bagian saudara laki-laki adalah dua berbanding satu dengan saudara perempuan.

Namun dari ketentuan diatas seakan diduga telah dipaangkas haknya dan tidak di berikan hak atas waris tersebut sesuai dengan porsinya , pada surat keterangan ahli waris yang di keluarkan oleh pemerintah Desa Cibolek Kidul Kecamatan Margoyoso dengan Nomor : 490 / 317 pada tanggal 19 Agustus 2017 oleh Kepala Desa Agung Kuswoyo , yang menerangkan bahwa Sutarman telah meninggal dunia di tempat tinggal yang terakhir di Desa Cibolek Kidul Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati , dan benar-benar mempunyai ahli waris ( anak ) yang bernama Aminah binti Sutarman yang lahir di Pati , 19 Agustus 1965 .

Kepada awak media saudara Aminah ( 53 ) pada hari Selasa ( 6 / 8 ) siang sekitar pukul 13.55 Wib,dirinya mengatakan bahwa seakan tidak diberikan hak atas waris oleh saudara – saudaranya, dan justru malah di anggap musuh oleh mereka ;

” Saya belum pernah di berikan hak saya ( warisan ) padahal saya juga salah satu dari ahli waris almarhum ( bapak ) . Adapun saya memiliki tanah yang saya jual itu, saya dapatkan secara jual beli semasa almarhum masih ada, dan akta jual beli itu di tanda tangani langsung oleh beliau ( almarhum bapak ) ketika saya sepulang dari perantauan pada tahun 1996 sementara almarhum meninggal di tahun 2004, jadi secara hukum jual beli saat itu di anggap sah dan juga di tanda tangani di hadapan salah satu Notaris , ” jelasnya

Lebih lanjut , Aminah juga mengatakan bahwa , ” Namun secara hak , seharusnya di lakukan bagi waris dengan semua ahli waris atas aset bergerak maupun tidak bergerak yang di miliki oleh almarhum semasa beliau masih ada , namun kenapa kok terkesan di abaikan dan tidak diberikan hak saya itu , dan justru malah di anggap musuh oleh saudara kandung saya sendiri ,” tambahnya

Pihaknya juga berencana akan mengadukan atas permasalahan yang ia hadapi kepada para pihak yang di anggap oleh Aminah mampu membantu permasalahan yang ia hadapi saat ini untuk mencari keadilan sesuai dengan aturan Kompilasi Hukum Islam tentang hak bagi waris ;

” Dalam waktu dekat saya akan koordinasi ke Pengadilan Agama di Pati, untuk mencari keadilan sesuai dengan aturan Kompilasi Hukum Islam terkait pembagian atas hak ahli waris ,” pungkasnya

( Red / Tg )

COMMENTS