Kol Buntet Benda Bertuah, Syarat Filosofi & Memiliki Tiga Pesan untuk Manusia 

Sejarah & Budaya9708 Dilihat

Pati, www.suarahukum-news.com-Beragam bentuk budaya dan kepercayaan terhadap benda-benda yang dianggap sakral dan memiliki kekuatan tak kasat mata bukanlah hal yang tabu di mata masyarakat, terlebih bagi mereka yang sangat menghormati dan melestarikan adat leluhur, khususnya bagi penduduk Pulau Jawa.(03/04)

Adapun benda antik dan bertuah tersebut terdiri dari berbagai jenis, mulai dari jenis batu mustika, tosan aji & serta benda-benda alam lainnya seolah menjadi cerita turun temurun dan melegenda, yang tak akan habis dimakan waktu.

Kol Buntet misalnya, benda yang satu ini cukup familiar di kalangan masyarakat. Adapun menurut cerita yang berkembang di kalangan pecinta batu bertuah dan berkodam adalah, bahwa benda yang satu ini dipercaya mampu membangkitkan energi positif dan menjadi perisai bagi pemiliknya.

“Tanah jawa memiliki banyak beragam bentuk budaya, adat dan kepercayaan. Banyak hal-hal dan keajaiban diluar nalar pikiran manusia,” ujar salah seorang praktisi Supranatural saat dikonfirmasi media ini di kediamannya, yang berada di area lereng Gunung Muria bagian timur, Sabtu (02/04/22) malam.

Lebih lanjut sang praktisi Supranatural ini juga menyebut kalau sejak zaman nenek moyang dan para leluhur juga tak jauh dari hal-hal kegaiban dan kepercayaan tertentu. Misalnya para raja-raja yang memiliki keistimewaan dan kadigdayan kanuragan, itu semua di peroleh dari lelaku (bertapa) dan memohon kepada sang pencipta alam semesta agar memiliki kaluwihan (kelebihan) dan kekuatan tertentu, semua itu tak lepas dari adanya kepercayaan yang diyakini.

“Pada zaman perjuangan, tak jarang dari orang tua terdahulu juga memiliki benda-benda bertuah untuk melindungi diri saat berjuang memperjuangkan kemerdekaan,” imbuhnya.

Disinggung filosfi dan makna yang terkandung dalam Kol Buntet, sang praktisi ini juga mengatakan, terlepas dari suatu keyakinan apapun dan jika dilihat dari bentuk fisiknya, benda ini (kol buntet) tak ada yang istimewa, ya seperti batu biasa layaknya batu fosil pada umumnya. Malah mirip gelintiran batu saja. Tetapi pamornya di kalangan para pencinta benda bertuah terbilang tinggi.

Berbagai jenis fosil siput bercangkang milik sang praktisi supranatural, (dok.red), Sabtu (02/04/22).

“Kata keong dan kol maknanya sama. Yaitu merujuk pada hewan lunak sebangsa siput yang bercangkang. Sedangkan kata buntet artinya buntu atau tertutup. Adapun yang dimaksud keong buntet adalah sebuah sarana spiritual, berupa cangkang atau rumah keong yang telah membatu. Sehingga cangkang tersebut buntu tertutup fosil (membatu),” terangnya.

Lebih lanjut dikonfirmasi tentang filosofi maupun khasiat, sang praktisi ini juga mengatakan, dalam kepercayaan tertentu untuk khasiat keong buntet adalah sebagai sarana pembuntu atau penutup semua masalah. Buntunya cangkang kol buntet mewakili selesainya masalah hidup yang dialami. Termasuk masalah keuangan, karir, rumah tangga, jabatan dan keselamatan.

Adapun sejarah panjang dan asal usul Kol Buntet ini, Bahwa semasa hidupnya cangkang ini diisi oleh keong yang bernyawa. Dan ketika sang keong mati, cangkangnya membatu, kemudian secara keyakinan energi kehidupan sang keong tetap tertinggal disana, meskipun wujudnya sudah mati dan tidak lagi ada.

“Dari Kol Buntet, ada tiga hal yang diajarkan oleh sang keong kepada kita. Pertama adalah kesabaran dan kesungguhan. Meski dengan geraknya yang sangat lambat, keong tidak pernah menyerah. Ia tetap menemukan jalan selama ada kemauan,” kata sang praktisi sembari mengangkat secangkir kopi malam itu.

Selanjutnya yang Kedua adalah kemauan untuk memaafkan serta kesanggupan menghadapi cobaan.

“Keong atau siput, ketika diusik, tidak pernah membalas, ia menarik diri. Kemudian ketika bahaya dirasa telah lewat, ia kemudian melanjutkan perjalanan hidupnya kembali,” ucapnya.

Kemudian yang ke Ketiga, Keong mengajarkan pentingnya jati diri. Tidak peduli ada dimana, rumahnya selalu dibawa. Sifatnya ini mengajarkan bahwa orang harus selalu ingat siapa dirinya, dan dari mana ia berasal. Tidak peduli dimanapun saat ini dia berada.

“Karena, ketika jati diri telah hilang, kesombongan lah yang akan datang. Maknanya, nenek moyang kita secara tidak langsung telah mengajarkan setidaknya tiga hal sebagai bekal hidup kita, lewat peranan keong buntet sebagai sebuah benda bertuah. Dan kita sebagai generasi yang berjuang di masa sekarang, memiliki kewajiban untuk melestarikan apa yang telah diwariskan (adat & budaya) oleh leluhur kepada kita,” pungkasnya.

 

 

 

(Red/Tg)