BUPATI : INTOLERANSI RASISME TERJADI KARENA TAK ARIF SIKAPI INFO DI MEDSOS

Bupati : Intoleransi rasisme terjadi karena tak arif sikapi info di medsos . Sabtu ( 7 / 9

Pati , www.suarahukum-news.com – Menurut Bupati Pati Haryanto, munculnya kasus-kasus intoleransi dan rasisme di Indonesia tidak sesuai dengan nilai kebhinekaan. Hal tersebut ia ungkapkan ketika menghadiri Pencanangan Desa Sadar Kerukunan di Balai Desa Giling, Kecamatan Gunungwungkal Kabupaten Pati , Sabtu ( 8 / 9 )

Dalam sambutannya , Bupati Haryanto menyampaikan bahwa , Permasalahanya, seringkali diakibatkan oleh ketidakarifan dalam menyikapi informasi yang berseliweran di media sosial ;

” Kita ini beragam. Harus rukun. Tapi kita seringkali dihadapkan persoalan kecil yang dibesar-besarkan. Kita sering terkontaminasi media sosial. Padahal, siapa sih yang tidak ingin rukun? Rukun itu senang , ” ungkap Bupati

Menurutnya , banyak informasi di media sosial yang justru membesarkan sebuah persoalan , jika hal itu tidak disikapi dengan bijak maka akan timbul sebuah gesekan yang dapat menimbulkan perseteruan antara para pihak , seperti halnya yang terjadi saat ini yaitu terkait isu Papua yang tengah hangat menjadi pembahasan ;

” Kalau kita tidak mengantisipasi dengan penuh kearifan, akan menjadi perpecahan luar biasa. Seolah-olah warga Papua tersingkirkan, padahal tidak. Ini karena media sosial. Kalau kita ini jadi korban media sosial, kita dipecah belah , ” tambahnya

Bupati Haryanto juga menyebut, kemarin, kita bersama Kapolres dan Dandim, seharian ia berkegiatan dengan tujuh siswa asal Papua yang sekolah di SMAN Kayen. Menurutnya, siswa asal Papua merasa nyaman hidup di Pati, masyarakat pun tidak ada yang mempersoalkan ;

” Mereka ini beragama Kristen, tinggal di salah satu staf saya yang Islam. Di sana mereka ya diberi kesempatan beribadah sesuai kepercayaannya. Memang kita harus kedepankan toleransi. Harus saling memahami. Kalau ada persoalan kecil yang bisa diselesaikan secara damai, kita damai. Tidak usahlah dibawa ke ranah hukum. Nanti justru bisa menjadi dendam , ” pungkasnya

( Red / Tin )

COMMENTS