Tak Perlu Lahan Luas, Petani di Pati Kembangkan Jeruk Nipis & Mulai Kewalahan Penuhi Permintaan

Nasional27 Dilihat

Pati, www.suarahukum-news.com |>Peluang usaha di sektor pertanian tak selalu harus dimulai dengan modal besar atau lahan yang luas. Agus Kacak, petani muda asal Desa Ngablak, Kecamatan Cluwak, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, membuktikan bahwa budidaya jeruk nipis bisa menjadi alternatif usaha yang menjanjikan.

Berbekal lahan sekitar 5.000 meter persegi, Agus kini mampu meraup pendapatan dari penjualan jeruk nipis sekitar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per minggu. Menariknya, hasil panen dari kebun tersebut justru belum mampu memenuhi seluruh permintaan pasar.

Di tengah hamparan perkebunan Desa Ngablak yang didominasi tanaman singkong, Agus mencoba mengembangkan komoditas berbeda. Awalnya, ia menanam sekitar 200 batang pohon jeruk nipis di sela-sela tanaman pisang yang sudah lebih dahulu tumbuh di lahannya.

Keputusan itu diambil setelah budidaya pisang yang sebelumnya menjadi andalan kerap menghadapi kendala. Serangan penyakit dan gangguan pertumbuhan membuat hasil panen tidak selalu sesuai harapan.

Agus kemudian mencoba peruntungan dengan menanam jeruk nipis, meski saat itu pengetahuannya mengenai budidaya tanaman tersebut masih terbatas

Seiring berjalannya waktu, pilihannya mulai menunjukkan hasil. Tanaman jeruk nipis tumbuh dan berbuah, bahkan dinilai memiliki prospek ekonomi yang lebih menarik dibandingkan tanaman pisang yang sebelumnya ia andalkan.

 

Dari 200 Pohon, Kini Tersisa 100 Pohon Produktif

Dari total 200 batang yang pernah ditanam, Agus melakukan penjarangan hingga kini tersisa sekitar 100 pohon. Kebun tersebut tetap memberikan hasil panen secara berkala.

“Dari luasan 5.000 meter persegi yang ditanami 200 pohon, saya melakukan penjarangan tanaman, sehingga saat ini yang tersisa hanya sekitar 100 pohon,” ungkap Agus.

Ia menjelaskan, panen jeruk nipis dapat dilakukan setiap minggu. Hasil panen kebunnya disebut berkisar satu hingga 1,5 kuintal, dengan harga jual sekitar Rp15.000 sampai Rp20.000 per kilogram.

Dari penjualan tersebut, Agus mengaku memperoleh pendapatan sekitar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per minggu.

Angka itu menjadi gambaran potensi ekonomi budidaya jeruk nipis bagi petani yang ingin mengembangkan komoditas alternatif. Namun, hasil dan keuntungan bersih tetap bergantung pada produktivitas tanaman, harga pasar, serta biaya perawatan dan operasional.

Perawatan Rutin, Pupuk Manfaatkan Bahan Organik

Agus menyebut perawatan jeruk nipis relatif sederhana. Ia melakukan penyiraman secara rutin dua hari sekali, pemangkasan ranting, serta penyemprotan pestisida sekitar satu bulan sekali.

Untuk pemupukan, ia lebih banyak menggunakan bahan organik, seperti pupuk kandang dan serasah daun yang tersedia di sekitar kebun.

Pola perawatan tersebut menjadi bagian dari upayanya menjaga produktivitas tanaman sekaligus memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.

Meski demikian, perawatan tetap perlu disesuaikan dengan kondisi tanah, cuaca, kebutuhan nutrisi, serta potensi serangan hama dan penyakit agar tanaman dapat tumbuh optimal.

Permintaan Pasar Jadi Peluang bagi Petani Lain

Persoalan yang kini dihadapi Agus bukan sekadar memasarkan hasil panen. Ia justru mengaku kewalahan memenuhi permintaan pembeli karena produksi kebunnya masih terbatas.

Menurutnya, pada setiap hari pasar Ngablak, permintaan jeruk nipis rata-rata mencapai lebih dari 20 kilogram.

“Per hari pasar Ngablak rata-rata meminta pasokan lebih dari 20 kilogram,” katanya.

Kondisi tersebut membuka peluang bagi petani lain di Desa Ngablak dan Kecamatan Cluwak untuk mulai melirik budidaya jeruk nipis. Terlebih, permintaan yang telah ada dapat menjadi pertimbangan awal sebelum petani menentukan komoditas yang akan dikembangkan.

Agus berharap semakin banyak petani berani memanfaatkan lahan yang dimiliki untuk menanam jeruk nipis. Dengan perencanaan yang tepat, komoditas tersebut diharapkan dapat menjadi pilihan usaha tambahan maupun alternatif sumber pendapatan keluarga.

Dukungan pemerintah desa terhadap budidaya yang dilakukan Agus juga diharapkan mampu mendorong pengembangan potensi pertanian lokal.

Kisah Agus menjadi pengingat bahwa peluang ekonomi bisa tumbuh dari lahan yang ada di sekitar rumah. Berawal dari percobaan sederhana, jeruk nipis kini membuka jalan bagi pengembangan usaha pertanian yang lebih beragam di Desa Ngablak, Kecamatan Cluwak, Kabupaten Pati.

 

(Red/Sh)